Hubungan Kejadian Obesitas Abdominal dengan Diabetes Mellitus Tipe 2

Avatar
Ilustrasi Obesitas abdominal dengan diabetes mellitus, (ist)

Wartacakrawala.com – Obesitas abdominal atau biasa dikenal dengan sebutan obesitas perut merupakan salah satu penyebab komplikasi diabetes. Obesitas abdominal ini memiliki risiko yang lebih tinggi daripada obesitas lainnya.

Obesitas abdominal ini ditetapkan dengan menggunakan indeks lingkar leher (neck circumference atau NC) dan rasio lingkar pinggang-panggul (RLPP).

Menurut penelitian yang dilakukan oleh National Health and Nutrition Examination Survey (2004), lingkar pinggang dianggap baik untuk memprediksikan massa lemak abdominal, yang dimana lemak tersebut adalah prediktor DM 2.

Lemak perut berlebih dapat meningkatkan risiko resistensi insulin, hiperinsulinemia, dan intoleransi terhadap glukosa. Intolerasin glukosa merupakan suatu keadaan dimana kadar glukosa darah tidak stabil (disglikemia) atau biasa disebut stadium pra-diabetes.

Apabila lemak perut berlebih, maka proses metabolisme asam lemak pun meningkat. Pelepasan asam lemak bebas berlebih dapat menyebabkan tekanan oksidatif dan fungsi endotel abnormal yang dapat memicu adanya DM 2.

Tingkat tinggi sirkulasi adipokine dari jaringan adiposa perut mengurangi ekspresi reseptor insulin tubuh menghambat jalur insulin dan proses fosforilasi yang mengarah ke resistensi insulin.

Sementara, hiperinsulinemia terkait dengan pelepasan asam lemak bebas berlebih dari jaringan adiposa perut yang melimpah yang menyebabkan berkurangnya pembersihan hati insulin dalam tubuh.

Di seluruh negara, ada hubungan positif yang kuat antara tingkat BMI rata-rata dan prevalensi diabetes pada tahun 2014 untuk pria dan wanita (koefisien korelasi masing-masing 0,86 dan 0,88).

Ini sedikit lebih lemah dari asosiasi yang diamati pada tahun 1980 (masing-masing 0,88 dan 0,91). WHO merekomendasikan pengujian glukosa darah vena puasa untuk diabetes.

Ada kekhawatiran bahwa glukosa puasa saja mungkin tidak menangkap semua kasus diabetes yang tidak terdiagnosis pada orang Afrika, yang tahap awal penyakitnya mungkin dinyatakan melalui peningkatan glukosa pasca-OGTT  2 jam.

Studi saat ini telah menyempurnakan upaya global sebelumnya dari Kolaborasi Faktor Risiko penyakit tidak menular (NCD).

Studi tersebut menyoroti kebutuhan mendesak untuk pengetahuan yang relevan kebijakan yang mendukung, layanan kesehatan yang lengkap dan lingkungan sosial dan fisik yang optimal untuk mengatasi meningkatnya obesitas dan diabetes. (*)

*) Penulis: Leni Susanti, Nova Dwi Ardiansyah, Firdausil Jennah, dan Elly Putri Aulia, Mahasiswa Program Studi Gizi, Fakultas Psikologi dan Kesehatan, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Wartacakrawala.com

*)Opini di Wartacakrawala.com terbuka untuk umum

*)Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim

Referensi
Dhawan, D., & Sharma, S. (2020). Abdominal Obesity, Adipokines and Non-communicable Diseases. Journal of Steroid Biochemistry and Molecular Biology, 203(2020), 1-6.

Hengwan,. (2020). Associations between abdominal obesity indices and diabetic complication: Chinese visceral adiposity index and neck circumference. Cardiovascular Diabetology, 19(118), 1-12.

Kengne, A. (2017). Trends in obesity and diabetes across Africa from 1980 to 2014: an analysis of pooled. International Journal of Epidemiology, 46(5), 1421–1432.

Total
0
Shares
0 Share
0 Tweet
0 Pin it
0 Share
0 Share
0 Share
0 Share
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post
aAAH7Vn1zAAAAAElFTkSuQmCC

Gelar Kongres XV, Ismei Bakal Kaji kebijakan Pemerintah dalam Pembangunan Ekonomi

Next Post
aAAH7Vn1zAAAAAElFTkSuQmCC

Cara Agar Chat WhatsApp Tidak Hilang Menggunakan Fitur Backup and Restore

Related Posts
Total
0
Share