Jer Basuki Mawa Beya Mulai Dikirab Peringati HUT Jatim, Begini Filosofinya

Shofy Maulidya Fatihah
Walikota Surabaya Eri Cahyadi menerima kirab Bendera Pataka Jer Basuki Mawa Beya, peringatan HUT Jawa Timur ke 77 / dok. Pemkot Surabaya
Walikota Surabaya Eri Cahyadi menerima kirab Bendera Pataka Jer Basuki Mawa Beya, peringatan HUT Jawa Timur ke 77 / dok. Pemkot Surabaya

Wartacakrawala.com – Bendera pataka Jer Basuki Mawa Beya mulai dikirab ke seluruh daerah di Jatim. Hal ini dilakukan dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-77 Provinsi Jatim pada 12 Oktober setiap tahunnya.

Jer Basuki Mawa Beya sendiri merupakan pepatah budaya Jawa dengan makna mendalam yang kemudian digunakan sebagai nama dari bendera pataka Provinsi Jawa Timur.

Jer Basuki Mawa Beya adalah salah satu ungkapan filosofis dalam bahasa Jawa. Ungkapan ini telah menjadi salah satu moto hidup masyarakat Jawa, khususnya masyarakat Jawa Timur.

Lantas apa makna di balik ungkapan “Jer Basuki Mawa Beya”? Simak ulasannya berikut ini,

Baca juga: Gubernur Jawa Timur Launching Logo dan Kick Off Peringatan Hari Jadi ke-77 Provinsi Jatim

Arti Jer Basuki Mawa Beya
Setiap kata pada pepatah Jer Basuki Mawa Beya memiliki makna tersendiri, antara lain sebagai berikut:

Jer: memang
Basuki: selamat, bahagia, berhasil
Mawa: memakai, membutuhkan, memerlukan
Beya: biaya, dana

Dengan demikian, ungkapan Jer Basuki Mawa Beya memiliki arti “untuk selamat, berhasil, bahagia, beruntung, membutuhkan biaya, pengorbanan serta kerja keras”.

Melansir laman jatimprov.go.id, ungkapan Jer Basuki Mawa Beya bermakna “untuk mencapai suatu kebahagiaan diperlukan pengorbanan”.

Baca juga: STIE Al-Rifaie Sukses Wisuda Ratusan Mahasiswa Siap Cetak Lapangan Kerja

Menurut buku Nilai-nilai Pendekar Pejuang oleh Dirgayuza Setiawan, meskipun beya berarti biaya, bukan berarti segala sesuatu bisa didapatkan dengan uang. Beya juga dapat diartikan sebagai pengorbanan.

Makna Jer Basuki Mawa Beya
Ugkapan Jer basuki Mawa Beya tidak berfokus pada ketersediaan materi untuk mencapai sesuatu.

Ungkapan filosofis berbahasa Jawa Kuno ini menekankan perlunya perjuangan serta pengorbanan untuk meraih tujuan dan cita-cita hidup.

Pengorbanan yang dimaksud bukan sekadar berbentuk materi. Namun, bisa diwujudkan dalam bentuk kerja keras, dedikasi waktu, tenaga, dan pikiran.

Sebesar apa pun materi yang dimiliki, tidak akan bisa digunakan untuk mencapai cita-cita tanpa disertai dengan berbagai bentuk pengorbanan.

Total
0
Shares
0 Share
0 Tweet
0 Pin it
0 Share
0 Share
0 Share
0 Share
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa melaunching logo pringatan hari jadi Jawa Timur ke 77 / dok. Pemprov Jatim

Gubernur Jawa Timur Launching Logo dan Kick Off Peringatan Hari Jadi ke-77 Provinsi Jatim

Next Post
Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat bersama Kasat Lantas Polres Malang, AKP Agnis Juwita Manurung saat meluncurkan Pos Polisi Mobile dan gerakan edukasi berlalu lintas bersama Pak Umar, (Gemar) / Humas Polres Malang

Satlantas Polres Malang Luncurkan Pos Polisi Mobile dan Mobil Gemar

Related Posts
Total
0
Share