Sepekan, Banjir Desa Lengkong Sayung Demak Tak Kunjung Surut

Avatar
Penyerahan bantua kepada warga korban banjir
Penyerahan bantua kepada warga korban banjir

Wartacakrawala.com – Warga di Desa Lengkong Sayung, Demak, Jawa Tengah sudah sepekan ini bergumul dengan banjir. Ketinggian genangan air itu bahkan ada yang setinggi satu meter.

“Air yang masuk rumah kurang lebih ada 800-an KK, saat ini semakin parah,” ujar Kades Sayung, Kecamatan Sayung, Munawir, Minggu (07/02).

Munawir menyebut air yang menggenangi rumah serta fasilitas umum itu berawal dari tingginya intensitas hujan sejak 6 Desember lalu. Selain itu, banjir yang tak surut diduga disebabkan karena ditutupnya siphon Gonjol yang menjadi satu-satunya jalur keluar air untuk pembangunan tol di Desa Sidogemah.

“Satu-satunya jalur keluar air di wilayah (tiga desa) ini yaitu Siphon Gonjol, akan tetapi sejak kemarin ditutup oleh pelaksana proyek tol, namun saat ini sudah dibuka kembali sekitar 50 persen,” jelasnya.

Nawir mendata ada sekitar 1.371 KK yang terdampak banjir. Dia juga menduga topografi wilayahnya yang berupa cekungan membuat air sulit surut.
“Ada empat dukuh yang terdampak di Desa Sayung. Selain itu banjir juga melebar ke desa lainnya, seperti Kalisari dan Kaligawe,” ujarnya.

Baca juga: Akuaponik Jadi Solusi Budidaya Sayur di Tengah Pandemi

Untuk mengurangi ketinggian air, pihaknya kini menyedot dan membuang genangan air itu ke Sungai Dombo menggunakan pompa besar. Sebab Sungai Dombo merupakan salah satu sungai besar yang menghubungkan air dari hilir ke laut, yakni dari Ungaran hingga Sayung, Demak. Setiap hujan deras, wilayah Sayung kerap mendapat kiriman air karena banyak parapet dan talut yang rusak.

“Kami berharap dapat dibantu dengan adanya pompa besar. Selain itu juga perlu adanya normalisasi Sungai Gonjol,” pintanya.

Pantauan di Lengkong Sayung Demak sekitar pukul 15.00 WIB, tampak air masih menggenangi rumah warga. Air yang berwarna keruh itu menggenangi jalan kampung setinggi sekitar 60 sentimeter. Selanjutnya cerita warga Lengkong, Demak soal banjir yang disebut terparah ini. Salah seorang warga yang rumahnya terendam air sekitar 60 sentimeter, Yati (60) menyebut banjir kali ini merupakan banjir terparah yang pernah dia alami. Sebab, ketinggian air masuk ke rumahnya relatif lebih tinggi dibandingkan banjir sebelumnya.

“Satu tahun setidaknya terjadi lima kali banjir. Tapi biasanya hanya sampai mata kaki di dapur, sekarang kursi depan saja tenggelam,” ujar warga Lengkong Sayung Demak.

Yati yang tinggal bersama anaknya yang berusia 17 tahun tersebut, heran lantaran air seperti mandek tak mengalir. Dia berharap air bisa segera surut dan bisa segera mendapat rezeki untuk meninggikan rumahnya.

“Air seperti berhenti, nggak tahu kapan surutnya. Dulu saat anak saya yang 17 tahun ini kecil, mengalirnya masih lancar ke sawah sawah. Saat ini sawahnya sudah jadi tambak-tambak, mau ke mana lagi airnya kalau sudah jadi air semua,” ujarnya. (*)

Total
0
Shares
0 Share
0 Tweet
0 Pin it
0 Share
0 Share
0 Share
0 Share
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post
Pemanfaatan ember bekas cat sebagai media hidroponik

Akuaponik Jadi Solusi Budidaya Sayur di Tengah Pandemi

Next Post
Mahasiswa peserta KKN-T mengajak masyarakat sekitar agar sadar terhadap bahaya pandemi

Gerakan Sadar Covid: Mahasiswa KKN UNIRA Malang Berikan Tips Anti Covid

Related Posts
Total
0
Share