Wartacakrawala.com – Muhammad Zidan Amirul Basysyari merupakan siswa SMA An Nur yang sedang menempuh jurusan bahasa di kelas X Idaman.
Beberapa bulan terakhir, ia menjadi bahan pembicaraan di sekolah karena prestasinya. Dalam periode desember hingga februari tahun ini, Ia telah memenangkan lima kejuaraan tingkat nasional dan satu tingkat kabupaten.
Zidan meraih hasil sempurna pada tiga kejuaraan nasional dengan menjadi juara satu. Adapun rincianya sebagai berikut, juara 1 lomba Khitobah Arobiyyah diadakan oleh lembaga Santri Pedia, juara 1 lomba baca puisi pelaksana Brainstar Management, juara 1 baca puisi penyelenggara Lentera Production.
Tak hanya itu, dalam ajang olimpade yang diadakan oleh lembaga Kompetisi Nasional (Komnas), Ia meraih medali perak pada kategori Qur’an Hadits dan mendapatkan medali perunggu pada mata pelajaran akidah akhlak.
Tingkat kabupaten, Siswa asal Blitar tersebut mampu meraih juara 3 lomba story telling dalam ajang Al-Qolam Award yang diadakan oleh Institut Agama Islam (IAI) Al-Qolam Malang.
Baca juga: Pagar Nusa SMA An Nur Sabet Gelar Juara Umum Festival Pencak Silat Nasional
Saat ditemui di sela-sela aktivitasnya sebagai pelajar, Zidan menuturkan jika ketakutan terbesarnya adalah menjadi pribadi yang bodoh.
Mengkuti lomba-lomba adalah cara membebaskan dan membuktikan diri, bahwa kita mampu, bahwa kita bisa menjadi orang yang hebat. Juara adalah bukti bahwa kita telah melewati proses dengan baik, ujarnya.
“Saya menyadari bahwa karena kebodohan Indonesia hanya bisa tunduk ratusan tahun kepada para penjajah, karena kebodohan Indonesia tertinggal jauh oleh Amerika dan Rusia, karena kebodohan bahasa internasional sulit dicapai rakyat Indonesia dan karena kebodohan rakyat Indonesia dibodohi oleh para pemimpinnya,” tegasnya.
Berkaitan dengan prinsip, menurutnya, Ia selalu termotivasi untuk berbeda dan harus menjadi orang yang luar biasa dari pada orang lain.
Buktinya, saat sebagian besar teman-temanya berbondong-bondong memilih jurusan IPA yang seakan-akan itu segalanya, Ia justru memilih jurusan bahasa yang sepi peminat.