Mali-G57 MC2
Informasi lengkap mengenai GPU beserta daftar smartphone yang menggunakannya.
Mali-G57 MC2 adalah GPU terintegrasi dari Arm yang dirancang untuk perangkat kelas mainstream, terutama smartphone dan tablet. GPU ini merupakan bagian dari keluarga Mali-G57 dan menggunakan arsitektur grafis Valhall, generasi arsitektur GPU Arm yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi sekaligus kemampuan pemrosesan grafis.
Dalam sebuah smartphone, Mali-G57 MC2 bertanggung jawab menangani pekerjaan grafis seperti antarmuka sistem operasi, animasi, rendering aplikasi, pemutaran video, hingga grafis game 3D. Karena GPU ini terintegrasi ke dalam SoC, performanya sangat bergantung pada chipset yang menggunakannya, termasuk konfigurasi memori, frekuensi GPU, sistem pendingin, dan optimasi software.
Istilah MC2 pada Mali-G57 MC2 menunjukkan konfigurasi dengan dua core atau cluster GPU. Karena itu, Mali-G57 MC2 tidak boleh dianggap sebagai satu GPU diskrit seperti kartu grafis desktop. Ia merupakan bagian dari sistem pemrosesan grafis yang berada di dalam chipset smartphone.
Apa Itu Mali-G57 MC2?
Secara sederhana, Mali-G57 MC2 adalah unit pemrosesan grafis atau GPU dengan dua cluster berbasis arsitektur Valhall.
Jika CPU dapat diibaratkan sebagai otak yang mengatur berbagai pekerjaan smartphone, GPU lebih mirip tim khusus yang bertugas mengolah visual. Ketika layar menampilkan animasi, gambar 3D, efek transparansi, atau lingkungan game, GPU mengerjakan sebagian besar proses grafis tersebut.
Arm menempatkan Mali-G57 sebagai GPU untuk perangkat mainstream. Arsitektur Valhall menjadi fondasinya dan membawa perubahan desain dibandingkan generasi Mali sebelumnya, termasuk penggunaan mesin superscalar dan penyederhanaan instruction set architecture (ISA).
Konfigurasi MC2 berarti desain GPU tersebut menggunakan dua cluster. Dalam dokumentasi Linux untuk perangkat berbasis MediaTek MT8370, misalnya, Mali-G57 MC2 disebut sebagai GPU dual-core berbasis Valhall.
Dengan demikian, ketika sebuah spesifikasi smartphone menuliskan:
GPU: Arm Mali-G57 MC2
artinya smartphone tersebut menggunakan GPU Arm Mali-G57 dengan konfigurasi dua cluster.
Mengenal Nama Mali-G57 MC2
Nama Mali-G57 MC2 terdiri dari beberapa bagian yang mempunyai arti berbeda.
Mali
Mali adalah keluarga GPU yang dikembangkan oleh Arm untuk digunakan sebagai IP GPU pada berbagai sistem-on-chip atau SoC.
Berbeda dengan GPU seperti NVIDIA GeForce atau AMD Radeon yang biasanya hadir sebagai produk kartu grafis, Mali umumnya dilisensikan sebagai intellectual property kepada perusahaan pembuat chipset.
Karena itu, GPU Mali dapat ditemukan di dalam berbagai SoC dari produsen berbeda.
G
Huruf G menunjukkan keluarga GPU Mali yang berorientasi pada pemrosesan grafis.
Seri Mali-G dikembangkan untuk menangani beban grafis modern pada perangkat seperti smartphone, tablet, perangkat hiburan, dan berbagai sistem embedded.
57
Angka 57 menunjukkan model GPU dalam keluarga Mali-G.
Mali-G57 berada pada generasi awal GPU Arm berbasis arsitektur Valhall. Arm menyebutnya sebagai GPU Valhall generasi pertama untuk pasar mainstream.
Jadi, Mali-G57 bukan sekadar nama generik untuk GPU Mali. Ia merupakan model GPU tertentu dengan karakteristik arsitektur tersendiri.
MC2
Bagian MC2 merupakan salah satu bagian terpenting dari nama tersebut.
MC2 menunjukkan konfigurasi dua cluster GPU.
Dengan kata sederhana:
- MC1 → 1 cluster
- MC2 → 2 cluster
- MC4 → 4 cluster
- MC6 → 6 cluster
Semakin banyak cluster bukan berarti performa selalu otomatis lebih tinggi. Akan tetapi, dalam keluarga GPU yang sama, jumlah cluster menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi kapasitas pemrosesan grafis.
Performa akhirnya tetap dipengaruhi oleh frekuensi GPU, bandwidth memori, konfigurasi SoC, software, dan thermal management.
Arsitektur Mali-G57: Valhall
Salah satu hal paling penting dari Mali-G57 adalah penggunaan arsitektur Valhall.
Valhall merupakan arsitektur GPU Arm yang hadir setelah generasi Bifrost. Arm menjelaskan bahwa Valhall membawa superscalar engine, ISA yang lebih sederhana, serta penyelarasan struktur data yang lebih baik dengan API grafis modern seperti Vulkan.
Perubahan ini penting karena GPU modern tidak hanya membutuhkan jumlah unit pemrosesan yang besar. GPU juga harus dapat menjalankan instruksi secara efisien sehingga sumber daya hardware tidak banyak terbuang.
Secara sederhana, bayangkan dua dapur yang sama-sama memiliki beberapa koki.
Dapur pertama memiliki banyak koki tetapi koordinasinya buruk. Dapur kedua memiliki lebih sedikit koki tetapi sistem koordinasinya lebih efisien.
Dalam kondisi tertentu, dapur kedua bisa menghasilkan pekerjaan lebih cepat.
Konsep serupa berlaku pada GPU. Jumlah unit pemrosesan penting, tetapi bagaimana instruksi dijadwalkan dan bagaimana data bergerak di dalam GPU juga sangat menentukan efisiensi.
Bagaimana Cara Kerja Mali-G57 MC2?
Ketika pengguna menjalankan sebuah game 3D, prosesnya tidak langsung menjadi gambar di layar. Ada rangkaian pekerjaan yang harus dilakukan.
Tahap 1: CPU menyiapkan pekerjaan
CPU menjalankan logika aplikasi atau game.
Misalnya:
- posisi karakter,
- pergerakan musuh,
- aturan permainan,
- input dari pengguna,
- perhitungan fisika,
- dan logika aplikasi.
CPU kemudian menyiapkan pekerjaan grafis yang perlu dikerjakan GPU.
Tahap 2: GPU menerima perintah rendering
Mali-G57 MC2 menerima command atau pekerjaan grafis dari sistem.
GPU kemudian memproses berbagai data yang diperlukan untuk membangun frame.
Tahap 3: Pemrosesan vertex dan shader
Objek 3D terdiri dari data geometris yang kemudian harus diubah menjadi bentuk yang dapat ditampilkan.
GPU menjalankan berbagai operasi shader untuk mengolah data tersebut.
Pada tahap ini, GPU dapat menangani pekerjaan seperti:
- transformasi objek,
- perhitungan pencahayaan,
- warna,
- tekstur,
- efek visual,
- dan berbagai operasi matematika grafis.
Tahap 4: Rasterisasi
Objek yang sudah diproses perlu diterjemahkan menjadi bagian-bagian yang berhubungan dengan piksel pada layar.
Proses ini menjadi bagian penting dalam pipeline grafis.
Tahap 5: Pixel processing
GPU kemudian menentukan warna akhir piksel berdasarkan berbagai informasi seperti tekstur, pencahayaan, material, dan efek visual.
Tahap 6: Frame ditampilkan
Setelah frame selesai diproses, hasilnya dikirim melalui pipeline display untuk ditampilkan pada layar smartphone.
Proses tersebut berlangsung berulang kali.
Pada game 60 FPS, misalnya, sistem harus menghasilkan sekitar 60 frame setiap detik agar gerakan terlihat mulus.
Fungsi Mali-G57 MC2 pada Smartphone
Mali-G57 MC2 tidak hanya digunakan untuk game.
GPU ini mempunyai berbagai fungsi dalam penggunaan smartphone sehari-hari.
Menjalankan antarmuka sistem
Animasi perpindahan aplikasi, scrolling, efek transisi, dan berbagai elemen visual sistem operasi memanfaatkan GPU.
Inilah salah satu alasan mengapa GPU berpengaruh terhadap rasa "smooth" sebuah smartphone.
Menjalankan game 3D
Game menjadi salah satu beban kerja GPU paling berat.
Mali-G57 MC2 dapat digunakan untuk menjalankan game Android dengan grafis 3D, tetapi pengaturan grafis ideal sangat bergantung pada game dan chipset yang digunakan.
Rendering aplikasi
Berbagai aplikasi modern menggunakan akselerasi GPU untuk menampilkan elemen grafis.
Contohnya aplikasi editing foto, browser, aplikasi media sosial, dan aplikasi multimedia.
Pemrosesan multimedia
GPU bekerja bersama komponen lain dalam SoC untuk membantu menghasilkan pengalaman multimedia yang baik.
Namun, perlu dibedakan antara GPU rendering dan hardware video codec. Proses decode atau encode video tertentu biasanya ditangani oleh blok multimedia khusus dalam SoC, bukan hanya oleh GPU.
Teknologi yang Digunakan Mali-G57 MC2
Arsitektur Valhall
Mali-G57 menggunakan arsitektur Valhall.
Menurut Arm, Valhall memperkenalkan mesin superscalar dan simplified scalar ISA serta dirancang agar lebih selaras dengan API modern seperti Vulkan.
Shader Core
Mali-G57 menggunakan shader core berbasis Valhall. Dokumentasi Arm mengenai Mali Offline Compiler menjelaskan bahwa shader core Mali-G57 menggunakan desain dengan throughput empat texel per clock dan dua pixel per clock, dengan kemampuan aritmetika yang dapat berbeda menurut model GPU.
Ini menunjukkan bahwa istilah "MC2" tidak berarti GPU hanya mempunyai dua unit sederhana.
Setiap cluster mempunyai struktur internal yang jauh lebih kompleks.
Floating-point dan operasi shader
GPU harus menangani operasi matematika dalam jumlah sangat besar.
Operasi tersebut digunakan untuk:
- transformasi geometris,
- pencahayaan,
- warna,
- tekstur,
- efek,
- dan berbagai algoritma grafis.
Karena itu, kemampuan komputasi GPU sering dinilai menggunakan throughput tertentu, tetapi angka teoritis tidak selalu menggambarkan performa game sebenarnya.
Cache
Mali-G57 memiliki hierarki memori internal yang digunakan untuk mengurangi kebutuhan mengambil data langsung dari memori utama.
Secara konsep, cache dapat dianggap sebagai "catatan cepat" GPU.
Jika data yang sering digunakan tersedia lebih dekat dengan unit pemrosesan, GPU tidak perlu selalu mengambilnya dari memori yang lebih jauh dan lebih lambat.
Namun, konfigurasi cache yang tepat dapat berbeda berdasarkan implementasi SoC. Karena itu, tidak tepat menganggap semua Mali-G57 MC2 pada semua chipset mempunyai konfigurasi memori dan cache yang identik.
Arm Frame Buffer Compression
Mali-G57 juga mendukung teknologi Arm Frame Buffer Compression (AFBC). Arm menjelaskan bahwa AFBC digunakan pada lini multimedia Mali untuk membantu mengurangi konsumsi daya melalui pengurangan kebutuhan bandwidth ketika menangani frame buffer.
Ini penting pada smartphone karena perpindahan data grafis antara GPU dan memori dapat mengonsumsi energi.
API grafis
Mali-G57 dirancang untuk bekerja dengan API grafis modern.
Mali-G57 telah tercatat dalam pengujian konformansi OpenGL ES 3.2 oleh Khronos.
Dukungan API aktual pada perangkat tertentu tetap dapat bergantung pada driver dan implementasi software dari produsen SoC.
Fabrikasi Mali-G57 MC2
Salah satu hal yang sering membingungkan pengguna adalah hubungan antara GPU dan fabrikasi chipset.
Mali-G57 MC2 sendiri merupakan desain IP GPU. Ia bukan chip fisik yang mempunyai satu teknologi fabrikasi universal.
Teknologi fabrikasi ditentukan oleh SoC tempat GPU tersebut diintegrasikan.
Contohnya, MediaTek Dimensity 700 menggunakan proses 7 nm, sementara Dimensity 6100+ menggunakan proses 6 nm dan keduanya menggunakan Mali-G57 MC2.
Artinya, dua smartphone yang sama-sama memakai Mali-G57 MC2 belum tentu mempunyai konsumsi daya atau performa yang sama.
Ini merupakan poin penting ketika membaca spesifikasi smartphone.
Kelebihan Mali-G57 MC2
1. Menggunakan arsitektur Valhall
Valhall membawa desain arsitektur yang lebih modern dibandingkan generasi GPU Mali sebelumnya.
Hal ini memberikan fondasi yang baik untuk perangkat mainstream.
2. Efisiensi menjadi salah satu fokus desain
Arm secara khusus memosisikan Mali-G57 sebagai GPU yang menyeimbangkan performa dan efisiensi untuk perangkat mainstream.
Pada smartphone, efisiensi sangat penting karena GPU bekerja menggunakan baterai.
3. Cukup untuk penggunaan grafis harian
Untuk:
- scrolling,
- animasi UI,
- video,
- media sosial,
- browsing,
- dan aplikasi sehari-hari,
Mali-G57 MC2 sudah memadai jika dipasangkan dengan SoC dan RAM yang sesuai.
4. Bisa digunakan untuk gaming
GPU ini masih mampu menjalankan berbagai game Android.
Namun, untuk game berat, pengguna kemungkinan harus menggunakan pengaturan grafis yang lebih rendah agar frame rate tetap stabil.
5. Banyak digunakan pada SoC mainstream
Mali-G57 MC2 digunakan pada beberapa chipset MediaTek seperti Dimensity 700, Dimensity 6020, Dimensity 6100+, dan Dimensity 6300.
Hal tersebut membuatnya cukup umum ditemukan pada smartphone 5G kelas entry-level hingga mainstream.
Kekurangan Mali-G57 MC2
1. Hanya menggunakan konfigurasi dua cluster
MC2 merupakan konfigurasi relatif kecil dalam keluarga Mali-G57.
Model dengan konfigurasi cluster lebih banyak dapat mempunyai kapasitas pemrosesan grafis yang lebih tinggi apabila faktor lain dibuat sebanding.
2. Bukan GPU untuk gaming kelas berat
Mali-G57 MC2 bukan ditujukan untuk menyamai GPU smartphone kelas flagship.
Game berat dengan resolusi tinggi dan efek maksimal dapat memberikan beban besar pada GPU.
3. Performa sangat bergantung pada SoC
Kesalahan umum adalah menganggap semua Mali-G57 MC2 memiliki performa identik.
Padahal, GPU yang sama dapat dipasangkan dengan chipset berbeda.
Perbedaan tersebut dapat mencakup:
- clock GPU,
- bandwidth memori,
- teknologi fabrikasi,
- CPU,
- driver,
- sistem pendingin,
- dan konfigurasi software.
Karena itu, nama GPU saja tidak cukup untuk menentukan performa smartphone secara keseluruhan.
4. Terbatas untuk perangkat yang mengejar grafis ekstrem
Jika kebutuhan pengguna adalah gaming dengan frame rate tinggi, resolusi tinggi, dan efek grafis maksimum, GPU kelas lebih tinggi akan lebih sesuai.
Performa Mali-G57 MC2 dalam Penggunaan Nyata
Performa Mali-G57 MC2 paling tepat dilihat dari kelas perangkat yang menggunakannya.
GPU ini cocok untuk penggunaan mainstream, bukan flagship.
Penggunaan ringan
Untuk aktivitas seperti:
- WhatsApp,
- Instagram,
- TikTok,
- YouTube,
- browsing,
- streaming,
- aplikasi kantor,
beban GPU biasanya tidak menjadi masalah besar.
Game ringan
Game dengan grafis sederhana dapat berjalan dengan nyaman selama keseluruhan konfigurasi smartphone mendukung.
Game menengah
Pada game 3D yang lebih berat, pengguna biasanya perlu menyesuaikan:
- resolusi,
- kualitas tekstur,
- shadow,
- anti-aliasing,
- efek visual,
- dan frame rate.
Game berat
Game dengan lingkungan 3D kompleks dapat membuat Mali-G57 MC2 bekerja lebih keras.
Dalam situasi tersebut, pengaturan grafis medium atau low sering lebih realistis dibandingkan memaksakan kualitas ultra.
Mengapa Dua HP dengan Mali-G57 MC2 Bisa Berbeda Performa?
Ini merupakan salah satu pertanyaan penting ketika membandingkan smartphone.
Misalnya terdapat dua perangkat:
| Komponen | HP A | HP B |
|---|---|---|
| GPU | Mali-G57 MC2 | Mali-G57 MC2 |
| SoC | Berbeda | Berbeda |
| RAM | Berbeda | Berbeda |
| Fabrikasi | Berbeda | Berbeda |
| Sistem pendingin | Berbeda | Berbeda |
| Driver | Bisa berbeda | Bisa berbeda |
Walaupun keduanya menggunakan GPU dengan nama yang sama, performanya belum tentu identik.
MediaTek Dimensity 6020, misalnya, menggunakan Mali-G57 MC2 dan dibuat dengan proses 7 nm. Sementara Dimensity 6100+ juga menggunakan Mali-G57 MC2 tetapi menggunakan proses 6 nm.
Dimensity 6300 kembali menggunakan Mali-G57 MC2, tetapi CPU performanya dapat mencapai 2,4 GHz dan platform tersebut mendukung layar hingga 120 Hz.
Jadi, GPU yang sama dapat hadir dalam platform dengan karakteristik yang berbeda.
Mali-G57 MC2 Cocok untuk Siapa?
Mali-G57 MC2 cocok untuk pengguna yang membutuhkan smartphone untuk:
- aktivitas media sosial,
- streaming video,
- browsing,
- komunikasi,
- aplikasi produktivitas,
- fotografi,
- multimedia,
- game ringan,
- dan game menengah dengan pengaturan grafis yang disesuaikan.
GPU ini juga cukup menarik untuk smartphone 5G terjangkau karena beberapa chipset yang menggunakannya memang dirancang untuk segmen mainstream.
Sebaliknya, pengguna yang menginginkan:
- gaming ultra,
- ray tracing berat,
- frame rate ekstrem,
- resolusi grafis tinggi,
- atau performa grafis flagship,
sebaiknya mencari GPU smartphone dengan kelas performa lebih tinggi.
